Selasa, 13 Desember 2011

mekanisme ledakan bom


Mekanisme Ledakan Bom
Oleh iswahyudi
Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya

Beberapa waktu lalu di berbagai media massa, baik elektronik maupun cetak, sering bermunculan kasus peledakan bom di Indonesia. Barangkali kita masih ingat dengan nama Imam Samudra atau Amrozi. Sosok yang namanya melejit pasca peledakan Bom Bali I dan II ini sempat menjadi momok yang menakutkan. Kasus peledakan bom sering kali dikaitkan pada kedua sosok ini.

Namun, tahukah kita bagaimana proses tejadinya ledakan bom ini? Mengapa bisa timbul ledakan?

Tulisan ini tidak bermaksud mengajarkan pembaca bagaimana membuat bom. Namun, bermaksud untuk menjelaskan secara umum bagaimana mekanisme sederhana ledakan bom itu bisa terjadi ditinjau secara kimia.

Dalam istilah kimia, reaksi peledakan ini dikenal dengan nama reaksi eksplosif. Reaksi eksplosif merupakan reaksi kimia yang berlangsung sangat cepat dan berlangsung dalam waktu sangat singkat. Reaksi eksplosif ini akan membebaskan sejumlah energi yang sangat besar. Dalam skala yang besar, reaksi ini mampu menghancurkan benda-benda yang berada dalam radius daya ledaknya. Reaksi inilah yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan ledakan bom.

Reaksi peledakan ini biasanya berlangsung dengan adanya katalis. Katalis inilah yang menyebabkan suatu reaksi kimia berlangsung dengan cepat. Katalis adalah suatu zat yang dapat meningkatkan kecepatan reaksi tanpa memodifikasi perubahan energi gibbs standar dari suatu reaksi (Admin Alif, 2005).

Platina merupakan salah satu contoh katalis yang digunakan untuk mempercepat terjadinya reaksi antara hidrogen dan oksigen dalam fasa gas. Dari reaksi ini dapat menyebabkan ledakan.

Dari beberapa literatur, diketahui bahwa katalis dapat menghasilkan atom hidrogen dari molekul hidrogen dan atom ini akan menyebabkan terjadinya reaksi rantai yang sangat cepat.

Disamping katalis, reaksi peledakan juga bisa terjadi jika ada nyala api, seperti nyala dari korek api, dan sebagainya. Nyala api ini dapat menjadi pemicu terbentuknya radikal bebas. Dalam suatu mekanisme reaksi, radikal bebas ini dapat menyebabkan reaksi bercabang yang menghasilkan lebih dari satu radikal. Jika reaksi radikal ini terjadi dalam jumlah yang banyak, maka jumlah radikal bebas dalam suatu reaksi akan meningkat. Akhirnya reaksi akan berlangsung sangat cepat dan akan dibebaskan energi yang sangat besar. Selanjutnya terjadilah ledakan.

Albert Einstein pernah memperkenalkan kepada dunia mengenai hubungan antara energi dengan massa dan kecepatan suatu benda yang dikenal dengan persamaan E = M.C2. Jika kita hubungkan dengan reaksi peledakan diatas, didapatkan suatu kesimpulan bahwa suatu reaksi peledakan akan semakin besar jika massa reaktan (zat yang mengalami reaksi) digunakan dalam jumlah besar dengan adanya kecepatan yang sangat tinggi. Einstein mendefinisikan kecepatan disini adalah kecepatan cahaya yang dikuadratkan. Dari penggunaan tersebut terjadinya ledakan yang dasyat.

Dalam skala laboratorium reaksi peledakan ini pun bisa diuji-cobakan. Dari berbagai literatur, di laboratorium terdapat banyak sekali zat-zat kimia yang jika dicampur dapat menyebabkan terjadinya ledakan. Meski ledakan yang terjadi tergolong kecil, namun secara prinsip hampir sama reaksi ledakan lainnya dalam skala besar. Tinggal kita memperbesar konsentrasinya saja. Selanjutnya agar terjadi ledakan, maka ditambahkanlah katalis atau nyala api untuk mempercepat terjadinya reaksi atau pembentukan radikal bebas. Akibatnya akan membebaskan sejumlah energi yang besar.
disadur dari http://www.chem-is-try.org

proses pembuatan katalis padat


proses pembuatan katalis padat

katalis bisa digolongkan menjadi 2 yaitu katalis heterogen (fasa katalis tidak sama dengan campuran reaksi) dan homogen (fasa katalis sama dengan campuran reaksi). Namun, katalis heterogen lebih disukai karena proses pemisahan katalis dan hasil-hasil reaksi lebih mudah untuk dilakukan. Suatu katalis padat terdiri dari 3 komponen utama, yaitu (1) fasa aktif, (2) penyangga, dan (3) promotor. Fasa aktif berfungsi untuk mempercepat dan mengarahkan reaksi, peyangga berfungsi untuk memberikan luas permukaan yang lebih besar bagi fasa aktif, dan promotor berfungsi untuk meningkatkan kinerja katalis. Fasa aktif dari katalis bisa menjadi tidak aktif (terdeaktivasi) karena beberapa sebab seperti kehadiran CO, CO2, dan senyawa-senyawa sulfur serta temperatur operasi yang terlalu tinggi.
----------
Katalis di Indonesia
Nah.. dari definisi dan cara kerja di atas, teman-teman semua pasti sudah memiliki gambaran yang cukup tentang bagaimana pentingnya penggunaan katalis dalam sebuah reaktor industri. Bayangkan saja, tanpa katalis suatu reaksi dapat menjadi 1.000.000 kali lebih lambat dalam menghasilkan produk. Salah satu pabrik katalis yang ada di Indonesia ialah pabrik di Kawasan Industri Kujang Cikampek dengan kapasitas produksi 1.100 ton/tahun. Pengelola pabrik ini adalah P.T. Kujang Süd-Chemie Catalysts, yaitu sebuah perusahaan patungan PT. Pupuk Kujang dengan Süd-Chemie Jepang dan Jerman. Namun untuk memberi gambaran tentang bagaimana keadaan industri katalis di Indonesia, berikut ini sedikit kutipan dari Harian Umum Kompas:

Meski peneliti di perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia berhasil mengembangkan teknologi katalis yang bernilai ekonomi, belum ada industri yang berminat memproduksi hasil inovasi itu. Hal ini, antara lain, disebabkan produksi katalis tidak menjanjikan skala produksi dan keuntungan yang tinggi. Akibatnya, hampir seluruh kebutuhan tersebut diimpor dan sebagian kecil diproduksi di Indonesia dengan lisensi dari luar negeri. Sejauh ini, pengembangan katalis belum menjadi perhatian secara terpadu dari pemerintah, industri, dan lembaga penelitian.
-------------
Pembuatan Katalis Ni/SiO2Pembuatan katalis Ni/SiO2dilakukan dengan dua cara,yaitu;a. Ke dalam empat wadah yang masing-masingnyaberisi 25 mL larutan Ni(NO3)2dengan konsentrasi0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 M ditambahkan 5,0 gr silika gel, diaduk selama 2 jam dan dibiarkan selama 24 jam.Campuran disaring dan endapan dikeringkan selama2 jam dalam oven dengan suhu 110oC, kemudiandikalsinasi pada suhu 500 oC selama 2 jam.Selanjutnya katalis ini disebut katalis a (Ka), dan empat katalis a ini dinamakan Ka-1 untuk penambahan larutan Ni(NO3)2dengan konsentrasi 0,5 M; Ka-2 (1,0 M); Ka-3 (1,5 M) dan Ka-4 (2,0 M). b. Dibuat sejumlah hidrosol seperti prosedur 2.3.,kemudian dibagi 4 bagian dan ke dalam masing-masing bagian ditambahkan 25 mL larutan Ni(NO3)2dengan konsentrasi 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 M sambildiaduk merata. Ke dalam campuran ditambahkan HNO36,0 M setetes demi setetes hingga terbentuk gel. Kemudian gel disaring dan dicuci hingga bening,dikeringkan dalam oven (110oC; 2 jam) dan dikalsinasi pada suhu 500 oC selama 2 jam.Selanjutnya katalis ini disebut katalis b (Kb), dan empat katalis jenis b ini dinamakan Kb-1 untuk penambahan larutan Ni(NO3)2dengan konsentrasi 0,5 M; Kb-2 (1,0 M); Kb-3 (1,5 M) dan Kb-4 (2,0 M). Uji Katalis Ni/SiO2Penentuan Jumlah Ni yang Terdapat dalam Katalis.Katalis Ni/SiO2(0,5 g) dilarutkan dengan cara menambahkan tetes demi tetes HF di dalam wadah plastik dan diencerkan dengan aquademin hingga 50,0mL. Larutan ini kemudian diencerkan kembali hingga100 kalinya, lalu dianalisa dengan menggunakan alatAAS.Uji Keasaman Katalis. Uji keasaman katalis dilakukan pada reaktor unggun tetap (fixed bed reactor). Katalis dibentuk menjadi pelet kemudian dihaluskan dan diayak hingga homogen dengan ukuran 0,125 – 0,5 mm. Seberat 0,5 gram katalis dimasukkan ke dalam tempat sampel dan direduksi dengan mengalirkan gas H2(40 mL/menit; bypass) pada suhu 500oC selama 2 jam.Setelah selesai suhu reaktor diturunkan menjadi 200 oC, tempat sample (bubler) diisi larutan amonia kemudian dialiri gas N2untuk membawa uap amonia kepadakatalis, agar terjadi adsorbsi amonia oleh katalis. Kemudian katalis dikeluarkan dari reaktor dan dinalisa dengan FTIR untuk mengetahui gugus asam Bronsted dan asam Lewis.Uji Sifat Katalitik. Uji katalitik dari katalis Ni/SiO2dilakukan pada reaksi hidrogenasi benzena menjadisiklo heksana dalam reaktor unggun tetap (fixed bedreactor). Reduksi katalis dan uji sifat katalitik dilakukan pada kondisi yang sama yaitu, laju alir H2dan benzena

petrokimia


1.    PENGERTIAN UMUM PETROKIMIA DAN POLIMER
Bahan/produk petrokimia adalah semua bahan/produk yang dibuat atau dihasilkansecara sintetik dari bahan baku migas atau komponen fraksi-fraksi, seperti;
1)      Pakaian, produk kosmetik dan parfum
2)      Kantong plastik, botol plastik dll.
3)      Jendela pesawat, payung penerjun, interior dancat dinding, fiber gelas, lapisan teflon pada penggorengan, sikat rambut, sikat gigi, katup jantung, container, dll.
Bahan/produk polimer adalah segala bahan atau produk kimia baik yang terbentuk secara proses alamiah di alam maupun secara sintetik dengan proses polimerisasi dari migas.polimerterdiridari :
a.      Polimer alamiah;
1)      Polisakarida (pati dan bahan selulosa)
2)      Protein: serat sutera, serat otot dan enzim
3)      Karet alam dan asam nukleat
b.      Polimer sintetik;
1)      Plastik sintetik
2)      Serat-serta sintetik
3)      Karet-karet sintetik dll.
2SEJARAH DAN MANFAAT PETROKIMIA
a. Tahun 1918,produk kimia organik melalui 3 jalur:
1)      Fermentasi bahan organik
2)      Ekstraksi dari senyawa yang terdapat di alam terutama batu bara
3)      Tranformasi/konversi dari minyak bumi dan lemak nabati
b. Tahun1920-an,
Iso propanol pertama kali dibuat dari kilang gas propilena. Jadi produk kimia organik sudah mulai dibuat melalui jalur proses petrokimia.
c. Tahun1939 – 1945
Kebutuhan untuk perlengkapan perang dikembangkan karet sintetis (Du Pont Company, USA), karena negara penghasil karet terbesar jatuh ke tangan Jepang.Faktor lain yang menunjang perkembangan industri petrokimia waktu itu – tahun 1970 karena harga minyak bumi relatif rendahataumurah.

Pemanfaat produk petrokimia
1)      Industri kendaraan bermotor dan industri transportasi, suku cadang, bemper, propeler pesawat yang sebelumnya terbuat dari logam.
2)      Industri kemasan (packing),  tinplate (kaleng dan aluminium digantikan oleh plastik produk petrokimia.
3)      Industri super komputer dan penginderaan jarak jauh
4)      Industri robotikdanIndustri bio–teknologi atau bio-engineering
3.    PRODUK – PRODUK PETROKIMIA
a. Berdasarkan Asal
1)   Industri Petrokimia Hulu
industri yang menghasilkan produk petrokimia yang berupa produk dasar/primer dan produk antara atau produk setengah jadi (masih merupakan bahan baku untuk produk jadi)
2)   Industri Petrokimia Hilir
Industri yang menghasilkan produk petrokimia yang sudah berupa produk akhir dan/atau produk jadi.
b. Berdasarkanpemanfaatan
1).  Produk Dasar
CO dan H2 sintetik, etilena, propilena, butadiena, benzene, toluena, xilena, dan n-parafin
2). Produk antara
Amonia, metanol, carbon black, urea, etil alkohol, etilklorida, cumene, propilena oksida, butil alkohol, isobutilena, nitrobenzena, nitrotoluena, PTA (purified terephthalic acid), TPA (terephthalic acid), DMT (dimethyl terephthalate), caprolactam dan LAB (linear alkyl Benzene).\
3).  Produk akhir
Urea, carbon black, formaldehida, asetilena, poli etilena, poli propilena, poli vinil klorida, poli stirena, TNT (trinitro toluena), poli ester, nilon, poli uretan, LAB-sulfonate (surfactant).
4). Produk Jadi
Pada umumnya berupa barang-barang atau bahan-bahan yang banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga seperti:
a)      plastik-plastik untuk produk elektronik dan telekomunikasi (radio, tv, film, alat-alat komputer, kabel telefon)
b)      plastik untuk rumah tangga (ember plastik, kantong/karung plastik, botol/kemasan plastik)
c)      Plastik untuk industri mobil dan pesawat terbang (bemper mobil, jok/busa mobil dan pesawat, ban mobil dan pesawat)
d)     Baju dan kaus kaki, terbuat dari benang poliester dan nilon, ban mobil dari campuran karet dan carbon black
e)      sabun bubuk deterjen dibuat dari LAB-sulfonat , dll.
4.      INDUSTRI PETROKIMIA DAN DAMPAK LINGKUNGANNYA
a.     Bahan Baku petrokimia
Bahan baku yang berasal dari kilang minyak :
1)      Fuel gas
2)      Gas propane dan butane
3)      Mogas
4)      Nafta
5)      Kerosin/ minyak tanah
6)      Gas oil
7)      Fuel Oil
8)      Short residue/ waxy residue
Bahan baku yang berasal dari lapangan gas bumi :
1)      Metana (CH4)
2)      Etana (C2H6)
3)      Propana (C3H8)
4)      Butana (n-C4H10)
5)      Kondensat (C5H12 – C11H24)
KilangMinyak :Kilang Minyak Cilacap, Balongan, Dumai, Musi, Balikpapan, dll
SumurGas :
1)      Lapangan Gas Arun (LNG, pupuk urea dan ammonia)
2)      Lapangan Gas Badak/ Bontang (LPG, pupuk urea, ammonia, dan LNG)
3)      Lapangan lainnya, seperti Lapangan Gas Natuna

5.    Cara-Cara Mendapatkan Bahan Baku Industri Petrokimia
a.       Gas Metana (CH4)diperoleh Dari pengeboran gas di lapangan. Gas metana dari kilang BBM (off gases)dijadikan gas buangan
b.      Gas Etana (C2H6)diperoleh Dari lapangan gas bumi
c.       Gas Etilena  (C2H4)diperolehdari Cracking gas etana, nafta dan kondensat.
d.      Gas Propana (C3H8)diperolehdari Absorpsi dan ekstraksi.
e.       Gas Propilena (C3H6)diperolehdari Cracking gas etana, propane, nafta dan kondensat
f.       Gas Butana (n-C4H10)diperolehdari Ekstraksi dan absorpsi.
g.      Kondensat (C5H12 – C11H24)diperolehdariEkstraksi dan absorpsi. Selain itu, juga dapat diperoleh dari kilang BBM.
h.      Benzena, Toluena dan Xilena (BTX Aromatik)diperolehdari catalytic reforming.
i.        Nafta (C6H14 – C12H26)diperolehdari Proses distilasi.
j.        Kerosin (C12H26)diperolehdariDistilasi atmosferik.
k.      Short Residue/ waxy residue
6.    Penyediaan Bahan Baku Industri Petrokimia di Indonesia
Ketersediaan Cadangan Gas Bumi (C1-C4)
a.       60%-80% kandungannya dalah gas metana
b.      Hampir merata dan menjangkau dareah padat penduduk dan pusat industri
Ketersediaan Bahan Baku Kondensat (C5-C11) :
1)      Kondensat dalam negeri selama ini diekspor ke luar negeri.
2)      Jika kandungan Produk paraffin dan olefinnya besarà jalur olefin center
3)      Jika kandungan naftene dan aromatic besarà jalur aromatic center
Ketersediaan Bahan Baku Nafta (C6-C12):
1)      Diperoleh dari kilang Cilacap dan Balikpapan
2)      Produksinya diekspor ke luar negeri
 Ketersediaan Bahan Baku residu / Low Sulfur Waxy Residu (LSWR) :
c.       Berasal dari Kilang Dumai, Sungai Pakning dan Eksor I Balongan
7.    Jalur-Jalur dalam Pembuatan Produk Petrokimia
a.    Jalur Gas Sintetik, Amonia dan Carbon Black
1)      Reaksi steam reforming untuk pembuatan ammonia.
2 CH4 + O2 + 2 H2O + N2 à 2 CO2 + 4 NH3
2).  Reaksi steam reforming pada pembentukan methanol :
  Lurgi High Pressure Process
  ICI Low Pressure Process
2)      Reaksi Oksidasi Parsial untuk membuat carbon black

Produk-produk petrokimia hilir     
1.      PembuatanAmoniaDengan Gas Sintetis
2.      Pembuatan Methanol dengan Steam Reforming
3.      Carbon Black
a.      Channel Black
1). Bahan baku : gas alam, setiap 500 cuft gas alam menghasilkan 1 lb carbon black.
2). Diameter partikel besar, sehingga struktur partikelnya rendah
3)   Derajat keasaman permukaannya (acidic surface pH) tidak aktif ,tidak bisa dipakai dalam vulkanisasi, permukaannya tidak tahan asam.
b.      Thermal Black :
1)      Proses pembuatannya menggunakan thermal process, bahan baku gas alam maupun minyak cair (residu)
2)      Diameter partikel besar, sehingga struktur partikelnya rendah
3)      Baik dipakai pada campuran karet yang tahan lentur (hogh elongation) atau pada campuran karet tahan gores (high abrasion).
c.       Furnace Black
1)        Bahan baku : gas alam atau minyak residu.
2)        1000 cuft gas alam menghasilkan 10 lb carbon black. 1 lb minyak residu menghasilkan 0,55 lb carbon black.
3)        Diameter partikel kecil, sehingga struktur partikelnya kuat
4)        Derajat keasaman permukaannya (acidic surface pH) sangat aktif sehingga sering dipakai dalam vulkanisasi, karena permukaannya sangat tahan asam.
4.      Pembentukan Pupuk Urea :
Tahap 1 : Pembentukan Amonia Carbamat (NH4COONH2)
                        2 NH3 + CO2 à NH4COONH2
Tahap 2 : Pengkristalan ammonium carbamat di dalam prilling tower menjadi urea
                        NH4COONH2  à CO(NH2)2 + H2O         

5.      Reaksi PembentukanFormaldehida (CH2O)
Reaksi yang terjadi adalah reaksi oksidasi methanol pada suhu 250oC, dengan katalis tembaga.
                                    2 CH3OH + O2 → 2 CH2O + 2 H2O


6.      Reaksi pembentukan DMT (esterifikasi)
7.      Reaksi pembentukan Methylamines
CH3OH + NH3 à CH3NH2 + H2O
CH3OH + CH3NH2 à (CH3)2 NH + H2O
CH3OH + (CH3)2 NH à (CH3)3 N + H2O
8.      Reaksi Pembentukan Methyl Halides
CH3OH + HCl à CH3Cl + H2O
CH3OH + HBr à CH3Br + H2O
MelaluiJalur Olefin (olefin center).Olefin adalah senyawa hidrokarbon tidak jenuh yang mempunyai ikatan rangkap terbuka yang sangat reaktif,Mudah terpolimerisasi. Jalur olefin menghasilkan etilena, propilena dan butilena menghasilkan produk dasar dari cracking bahan baku nafta
Olefin dengan Bahan Baku Nafta.Jika bahan baku berasal dari nafta fraksi berat (C15 – C23) dan dari jenis minyak parafin, maka akan terbentuk campuran molekul parafin dan olefin :
C23H48 à C8H18 + C15H30 à C3H8 + C12H22  (cracking)
Proses ini dapat terjadi terus menerus hingga terbentuk cokes :
C12H22 à C2H6 + C10H16 à C2H4 + C8H12 à  2 CH4 + C6H4  (cracking)
C6H4 à CH4 + 5 C  (cracking)
Selain itu juga dapat terbentuk ter dari hasil polimerisasi olefin :
C10H16 + C10H16 àC20H32 + C15H30 à  C35H62  (kopolimerisasi C20H32  dengan C15H30 )
Olefin dengan Bahan Baku Etana.Jika bahan baku yang digunakan adalah gas etana, maka reaksi cracking yang terjadi adalah sebagai berikut :
C2H6 à 2 C2H4 + H2  (cracking)
Karena di dalam umpan juga terdapat gas propana, maka terjadi pula reaksi cracking sebagai berikut :
C3H8 à C3H6 + H2  (cracking)
C3H8 à  C2H4 + CH4  (cracking)
2 C3H8 à  C4H8 + 2 CH4 
2 C3H8 à  C2H6 +  C2H6 +  CH4 
Hasil cracking tersebut akan mengalami cracking dan hidrogenasi lebih lanjut sebagai berikut :
C3H6 + 3 H2 à  3  CH4 
C3H6 à C4, C5, C6 + H2

GambaranSuatuKilang Olefin
Produk petrokimia hilir yang dihasilkan melalui jalur olefin :
1)      Plastik dari etilena: polietilena (PE), polivinilklorida (PVC), polistirena (ps), etilen glikol (EG), dan etilen asetat (EA).
2)      Plastik dari propilena: polipropilena (PP), isobutilasetat, akrilat, fenol, karet etilen propilena.
3)      Plastik dari butilena atau butadiena: polibutadiena.



Contoh-Contoh Reaksi Untuk Menghasilkan Produk Hilir
1)      Polietilena (PE)
a)      Low Density Polyethylene (LDPE):
b)      Dihasilkan dengan High Pressure Process, T suhu 100-300 OC, dan P 1000-3000 kg/cm2, bantuan katalis peroksida.
c)      Densitas PE 0,915 – 0,930 gr/cm3
d)     Titik didih 100oC.
e)      Jenis plastik ringan

Pembuatan LDPE denganTekananTinggi


Pembuatan LDPE
2)      Polietilena(PE)
High Density Polyethylene (HDPE)
a)      Dihasilkan dengan Medium (Phillips process) atau Low Pressure Process (Ziegler Low Pressure Process).
b)      Densitas sebesar 0,940-0,970 gr/cm3
c)      Titik didih sebesar 122-131 oC.
d)     Produk ini dipergunakan untuk pembuatan botol plastik, kaleng plastik, ember dan kontainer.
Karet Polibutadiena
n CH2 = CH2 – CH = CH2 à [ - CH2 – CH2 = CH2 – CH2 - ]n
3)      Polivinil klorida (PVC)
a)      Rigid PVC (keras dan mudah pecah); digunakan di sektor bangunan dan konstruksi
b)      Flexible PVC (lunak); digunakan pada industri kulit imitasi dan kemasan.
c)      Proses pembuatan PVC :
d)     Klorinasi langsung gas etilena membentuk etilen diklorida (EDC) yang tidak stabil
e)      Pirolisis (Thermal Cracking) EDC membentuk Vinil Chloride monomer (VCM)
f)       Polimerisasi VCM menjadi PVC
4)      Polistirena
Proses pembuatan :
a)      Reaksi Alkilasi Etilena dengan Benzena membentuk etil benzena
b)      Dehidrogenasi dengan steam terhadap etil benzena sehingga terbentuk monomer stirena
c)      Reaksi polimerisasi atas monomer stirena

Jalur Aromatik
1.      Senyawa hidrokarbon tak jenuh yang mempunyai ikatan atom C siklis, berupa ikatan atom antara C6 – C8, seperti benzena, toluena, xilena, dlL
2.      Sangat reaktif sehingga mudah bereaksi dan terpolimerisasi.
3.      Menghasilkan Benzena, Toluena dan Xilena(BTX) sebagai hasil utama, serta sikloheksana (CHX) sebagai produk samping.
Aromatik dengan Bahan Baku Nafta
1.      Hidrokarbon aromatik (BTX) dihasilkan melalui proses catalytic reforming, dengan nafta sebagai bahan baku dan katalis platina, pada suhu 450-500oC
2.      Reaksi pembentukan benzena: dehidrogenasi hidrokarbon sikloparafin
Reaksi pembentukan toluena: isomerisasi hidrokarbon dimetil siklopentana disusul dengan dehidrogenasi
Reaksi pembentukan orto, meta dan para (o,m,p) xilena: reaksi isomerisasi hidrokarbon trimetilsiklopentana, disusul dengan dehidrogenasi.
Produk Hilir Jalur Aromatik
1.      Benzena → melaic anhydride, polistirena, deterjen, fenol, akrilonitril, sikloheksana, kloro benzena, dll
2.      Toluena → toluen diisosianat dan poliuretan
3.      O, m, p Xilena → anhidrida dtalat, asam terepthalat, dimetil terepthalat, polietilen terepthalat dan asam isopthalat.
8.    PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN PRODUK-PRODUK PETROKIMIA
Penggunaan dan Pemanfaatan Menurut Sektor Industri :
a.    Penggunaan Dalam Industri Pupuk Dan Pestisida
1). Produk amoniak/ urea dalam negeri sebagian besar digunakan sebagai pupuk pertanian, dan adhesive urea formaldehida.
2). Dalam industri pestisida, sebagaian bahan aktif pestisida, pelarut dan aditifnya merupakan produk akhir petrokimia seperti senyawa carbamate, thiocarbamate, surfaktan organik, organoklorida, alkohol, dsb.
b. Penggunaan dalam Industri Serat Sintetik.Produk petrokimia yang digunakan untuk serat sintetik adalah TPA (terepthalic acid), DMT (dimethyl terepthalate), PTA (purified terepthalic acid), dan kaprolaktam.s
c. Penggunaan dalam Industri Bahan PlastikPE (polietilena), PP (polipropilena), PVC (poli vinil klorida), dan PS (polistirena).
d.  Penggunaan Dalam Industri Adhesive ResinUrea formaldehida, melamin formaldehida dan fenol formaldehida.
e. Penggunaan dalam Industri Deterjen.Alkil benzena, alkil benzene sulfonat (ABS), dan selulosa karboksi metil (CMC).
f. Penggunaan dalam Industri ElastomerKaret sintetik yang digunakan untuk industri ban adalah SBR dan karet butil sebesar 20%.
g. Penggunaan dalam industri Kimia, Khusus Industri Zat Pewarna (Dyestuff Industry)Phthalic anhydride (pewarna tekstil) dan carbon black